Archive for Cuap-Cuap Penulis

Digital Kidz..??

digital1Pagi tadi saat mau buka warnet setelah beres-beres, sudah ada anak kecil yang biasa main di warnet saya hampir saja nyelonong masuk seperti biasanya, padahal lantai saat itu masih basah habis saya pel. Dulunya saya sempat sebel sama anak yang satu ini, dulu kerjaannya hanya merecoki kakaknya yang usianya tidak terpaut jauh darinya. Anak ini sendiri masih kelas 3 SD, tapi sudah bisa bermain internet sendiri. Hampir setiap hari dia main di warnet saya, kadang cuma main Rp.1500, kadang Rp.2000, pokoknya gak jauh2 dari angka itu. Tidak seperti yang lainnya, setiap main dia selalu menyerahkan uangnya dulu sambil bilang seperti ini, “Main 1500…”, atau “main 2000 aja…”, sedangkan saya hanya bisa tersenyum.
Baca entri selengkapnya »

Tinggalkan sebuah Komentar

Hari ini (13/08/09) Aneh Bangeettzz..

kacauHari ini sumpah aneh banget…

Pertama…
aku sama istriku pagi2 dah ribut…

Kedua…
Pas siang internet gak bisa konek, mana ada pelanggan lagi…

Ketiga…
Gak lama setelah itu mati lampu…alah alah…ono opo iki…
Baca entri selengkapnya »

Tinggalkan sebuah Komentar

Gap di kantor : apa, kenapa dan bagaimana mengatasinya?

Seringkali permasalahan di kantor timbul karena adanya jurang komunikasi yang terlalu lebar dan berbagai bentuk kesalahpahaman lain. Namun ada juga dalam beberapa hal gap itu terjadi karena memang di sengaja oleh pihak2 tertentu.
ftp_office1
Ketika saya merenungi kilas balik perjalanan karir saya di beberapa pekerjaan yang lalu saya mendapati fakta bahwa gap itu bisa terjadi karena beberapa hal berikut ini :

1. Adanya senioritas
Kebiasaan yang telah mendarah daging hampir di setiap perusahaan ini telah memakan sekian banyak korban, khususnya mereka2 yang dicap sebagai pegawai baru. Saya mengalami itu dan merasakan keanehannya. Kenapa aneh? Dulu setiap saya naik kelas ke tingkatan sekolah yang lebih tinggi saya mendapati kenyataan bahwa setiap murid baru pasti dan akan mengalami penggemblengan dari para senior, dan saya melalui itu dari SMP, SMU bahkan kuliah. Ketika semua itu berlalu ketika saya lulus kuliah ternyata apa yang namanya senioritas dan bentuk “penggemblengan” terselubung itu masih saja terjadi. Saya hanya bisa menghela nafas saja, kenapa? Satu, sepertinya hal ini tidak wajar di alami oleh orang yang dari segi usia telah cukup matang untuk memulai suatu hubungan komunikasi yang dewasa tapi masih saja di perlakukan layaknya seorang anak sekolah dimana di situ kita harus menunduk hormat, segan terhadap senior yang mungkin saja usianya lebih muda dan keahlian lebih sedikit, dsb. Ini aneh, bahkan otak saya hampir tidak bisa mencernanya. Kenapa bisa begini, dimana sikap kedewasaan tiap2 orang. Tidak bisakah mereka mengedepankan kedewasaan dalam komunikasi antar sesama. Tidak bisakah mereka berpikir positif bahwa apa yang kita kerjakan disini adalah sesuatu yang tidak seharusnya dianggap main-main.

Kita harus bekerja secara profesional, bukan kekanak-kanakan dengan menerapkan hukum rimba yang terselubung. Saya mendapati kenyataan itu banyak terjadi hampir di setiap perusahaan. Sungguh menyedihkan. Bahkan di perusahaan yang katanya tidak ada sistem senioritas semacam itu hal demikian tetap saja terjadi. Senioritas adalah sistem hukum rimba, dimana yang “lama” bisa sewenang-wenang terhadapa yang “baru”.

kenapa ini terjadi?

Dari pengalaman saya, sistem senioritas itu muncul karena adanya keinginan agar para pemula bisa menghormati para tetuanya yang telah lebih dulu berkecimpung di pekerjaan itu dan telah lebih dewasa.

Hal ini wajar menurut saya dan memang baik agar para pemula yang baru itu bisa menjaga sopan-santun dan rasa hormatnya. Tapi menjadi tidak wajar saat dalam perjalanannya ternyata menjadi berlebihan. Ada saja praktek fisik yang terjadi, mulai dari yang teringan hingga pemukulan, dsb.

Ada apa dengan orang2 ini? Apa mereka merasa mereka ada di hutan? Entahlah, mungkin hanya Tarzan yang bisa menjawabnya…
Baca entri selengkapnya »

Tinggalkan sebuah Komentar

JANGAN MATI SURI-KAN BISNIS ANDA

42-18643902Pengalaman ini saya dapatkan ketika saya mengelola bisnis saya. Seperti yang kita ketahui, setiap bisnis baru mempunyai kecenderungan ramai karena sudah kebiasaan umum kebanyakan orang untuk mencoba suatu produk atau jasa yang baru, apalagi bila jasa atau produk tersebut unik dan jarang.
Dalam perjalanannya, bisnis apapun pasti akan menemui halangan dan rintangan, entah itu yang sifatnya dari “luar” maupun yang dari “dalam”.

Ada kalanya kita merasa tidak kuat bahkan cenderung ingin menyerah saja ketika masalah itu datang, padahal itulah ujian “kenaikan kelas” kita. Bila kita sanggup melewatinya, maka kita akan bertambah kuat, dan bila tidak, maka kita akan menjadi bulan-bulanan dari permasalahan berikutnya.
Umumnya orang yang bergelut di usaha apapun pasti mau tidak mau harus menyumbangkan sebagian perhatian dan waktunya untuk di awal usahanya itu. Terkadang begitu penuhnya perhatian dan waktu yang kita berikan sampai-sampai kita menjadi tidak fokus untuk mengerjakan hal yang lainnya.
Seiring berjalannya waktu, kita akan menemui hambatan. Ketika kita berhasil melaluinya maka akan datang hambatan lainnya yang mungkin akan sedikit lebih berat dari sebelumnya. Ketika perhatian kita terbagi, mengalami masalah atau cobaan yang tidak mampu kita hadapi terkadang sebagian besar dari kita malah mematisurikan bisnisnya, bahkan ada yang benar-benar mematikannya.
Untungnya saya tipe orang yang berprinsip, insyalah, sekali buka (usaha apapun) akan terus buka walau apapun cobaannya, untuk itulah telah menjadi kebiasaan saya untuk memikirkan secara matang bisnis apa yang akan saya dirikan nanti agar saya tidak mengecewakan diri saya sendiri, karena saya menyadari, keruntuhan awal suatu bisnis adalah ketika sang founder melemah, utnuk itu saya harus mencintai bisnis yang akan saya geluti nanti, itu modal pertama saya. Hal ini sudah saya terapkan dan buktikan pada bisnis pertama saya. Mengalami kendala intern, kekurangan modal, adanya persaingan, dan hal-hal lain itulah yang pernah saya alami, namun itu semua insyalah tidak akan menyurutkan cita-cita saya untuk terus menghidupkan bisnis saya walau apapun keadaannya, insyalah.
Baca entri selengkapnya »

Tinggalkan sebuah Komentar

IBUKU SANG BISNISMEN

working_family_womanMungkin kata-kata diatas kurang tepat kali ya. Mungkin lebih tepatnya seharusnya ditulis “Bisnis woman”
karena beliau kan wanita. Tapi istilah “bisniswoman” juga kedengaran agak janggal, apalagi jaman dulu, habisnya jarang kita dengar, nanti malah jadi lucu lagi, hehe…

Kisah ibu saya ini (saya manggil beliau mama) adalah kisah nyata yang saya sebagai anaknya boleh berbangga hati mempunyai ibu seperti beliau, cantik, baik dan otak bisnisnya encer, walaupun beliau (kalo gak salah) SD saja tidak tamat, tapi kalau mau di adu sama istri pejabat sekalipun gak malu2in deh, bahkan dulu saat beliau masih mendampingi almarhum ayah saya -ayah saya dulu adalah seorang Lurah-, beliau sangat dikagumi oleh ibu-ibu yang lain bahkan kerap menuai pujian. Mungkin ini juga hasil didikan ayah saya yang penyabar, kalem dan lurus banget hidupnya gak neko-neko, bahkan kesannya fanatik sama agama, padahal saya sebagai anaknya tahu bahwa beliau tidak seperti-seperti itu amat karena agama saja melarang kita tuk berlebihan dalam hal apapun, beliau biasa saja, sederhana, cuma beliau taat pada agamanya, konsisten, jujur, zuhud pada dunia dan merakyat. Kisah beliau mungkin akan saya tuangkan nanti, karena menurut saya menarik dan insyalah bermanfaat.

Kembali ke kisah ibu…

Awal ibu terjun ke dunia bisnis dimulai ketika beliau mengandung anak pertama setelah sekian lamanya menunggu titipan dari ilahi ini. Awal beliau bisnis inilah yang menarik untuk dibahas karena “gue banget” gitu loch, bahkan mungkin teman-teman atau pembaca blog ini juga merasa “gue banget” karena masalahnya pasti gak asing lagi di telinga temen-temen, yaitu masalah modal..
Baca entri selengkapnya »

Tinggalkan sebuah Komentar

PROMOSI MURAH-MERIAH

pic_iklan_barisSaya mau sharing tentang ketakutan saya dulu awalnya ketika baru merintis usaha yang saya beri nama Blue Cell ini. Awalnya saya merasa grogi, gak pede, malu juga, masa sarjana jualan pulsa. Tapi anyway busway, saya pun tetap melakukannya. Saya kumpulin dulu semua semangat yang ada terus baru saya action. Awalnya cuma dari iklan yang saya tempel di pagar depan rumah saya, ukurannya cuma kertas HVS A4. Inti iklannya cuma mo bilang kalau saya jualan pulsa, cuma itu aja, dan ternyata itu…. manjur juga, hehehe… ternyata ada juga pembeli yang nyantol, padahal gak ada etalase gak ada apa-apa, cuma selembar kertas… dan asal anda semua tahu, awal untuk bisa melakukan itu semua -bikin iklan sampai nempelin kertas itu- ternyata membutuhkan keberanian yang sangat amat berani, bagi saya loh, kenapa bisa gitu? Ya mungkin karena gengsi saya kegedean kali ya..hehehe… malu, sarjana kok jualan pulsa… yah kira2 gitu lah yang faktor penghambat yang ada dipikiran saya saat itu…
Baca entri selengkapnya »

Comments (1)

YUK KITA BERBISNIS!!

business race on a blue track
Berbisnis?

Modal darimana??

Mungkin itu yang dikatakan sebagian besar orang (termasuk saya juga, hehehe…).
Berbisnis memng tidak semudah yang dibayangkan, perlu pengorbanan dan kerja keras. Tapi apa itu saja sudah cukup? Tentu tidak, kalau mau dipaparkan lebih jauh proses bisnis itu ribet, njilemet bin susah deh. Tapi kalau mau sekedar buka ya bisa aja sih, tapi apa iya kita mau berbisnis yang asal-asalan?

Jika kita ingin menekuni bisnis secara serius, tentu modal dan tekad yang kuat belum tentu cukup, ada persoalan lain yang harus kita kuasai, seperti, apakah kita familiar dalam hal mengurusi keuangan? Soal ini saja apabila kita kurang meguasainya bisa jadi bencana besar dikemudian hari, karena ilmu pengelolaan keuangan yang baik dan benar serta efektif akan sangat penting artinya bagi perkembangan bisnis kita sekarang dan dimasa yang akan datang. Belum lagi kalau berbicara masalah promosi, strategi pemasaran, kualitas dan servis yang oke, wah bisa-bisa kita hanya bisa terdiam and do nothing nih…

Tapi tenang dulu, lebih baik pusing sekarang daripada nanti, ya tokh. Berbisnis memang harus terlebih dahulu disadari yang pahit-pahitnya, yang susah-susahnya, yang getir-getirnya supaya nanti kita gak kaget lagi. Ibarat kita transit di hutan, semuanya udah lengkap, ada senjata, ada senter, ada cadangan makanan, dsb, semua itu supaya kita bisa survive di hutan. Analoginya sama dengan kita berbisnis, harus ada persiapan yang matang dan tahu medannya (bukan kota medan loh).
Baca entri selengkapnya »

Comments (1)

Older Posts »