Punyaku, Punyamu dan Punya Kita…

Waktu lagi iseng nonton tayangan siaran TV dulu yang namanya “21 Jump Street” yang dibintangi oleh Jhonny Depp, pada salah satu scene-nya dimana ceritanya si Juddy (salah satu polisi yang bertugas di 21 Jump Street) hendak menyelesaikan atau mungkin tepatnya mendamaikan kedua orangtuanya yang sepertinya telah bercerai tanpa sepengetahuan dirinya, ibunya berkata kepada ayahnya ketika sang ayah menuduhnya ini dan itu lalu mempertanyakan kenapa dia melakukan ini dan itu, si ibu istri dari ayahnya ini berkata kurang lebih seperti ini, “Kamu punya milikmu sendiri, punya apa yang menjadi milik kita berdua, tapi bagaimana denganku, aku tidak punya apa yang menjadi milikku sendiri..”, mendengar perkataan istrinya itu sang ayah tertegun lalu terlihat merenung dan kian melunak.

Sahabat-sahabat semua, ternyata dalam sebuah perkawinan ada yang namanya : milikku, milikmu dan milik kita. Pengertian ketiga hal itu bermacam-macam, bisa bersifat benda/barang, bisa juga di artikan sebagai waktu: waktumu, waktu kita dan waktuku. Terkadang tanpa kita sadari kita telah merampas hak pasangan kita yaitu waktunya. Terkadang tanpa kita sadari kita telah begitu egois, yang ada hanya waktu kita sendiri, barang milik kita sendiri, waktu milik bersama, barang milik bersama, tapi tidak ada hal-hal yang menjadi miliknya, seperti misalnya barang miliknya sendiri, waktu senggang miliknya sendiri yang mungkin mau dipergunakannya untuk hang-out bareng teman-teman wanitanya semasa di SMA dulu. Selama ini hanya ada milikku, milik kita tapi tidak pernah ada miliknya (milik pasangan kita).

Saya melihat bahwa sebagai sebuah pasangan seharusnya kita berdua mau saling memahami, mau mengerti dan bertoleransi agar pertengkaran-pertengkaran yang seharusnya tidak terjadi bisa di minimalisir.
Mungkin demokrasi sangat berperan penting dalam hal ini. Saya pun baru menyadari akan hal ini, mungkin juga anda demikian, tapi syukurnya hal itu belum terlambat jika kita mau merubahnya menjadi lebih baik sebelum pertengkaran yang tidak perlu itu terjadi.

Sahabat-sahabat ku semua, pasangan kita mempunyai apa yang telah menjadi miliknya sebelum kita “mengkontrol” hidupnya dalam bingkai pernikahan. Sebelum kita mengenalnya dia (kekasih kita) telah mempunyai kehidupannya sendiri, waktunya sendiri, barang-barang kepunyaannya sendiri yang dia beli sendiri atas keinginannya sendiri, lalu tiba-tiba kita masuk ke kehidupannya lalu “menjajahnya” dengan larang ini-larang itu, adilkah itu? Sebagai insan yang cinta “kemerdekaan” mungkin sahabat semua akan setuju bahwa tidak ada seorang pun yang ingin hidupnya terkekang. Hidup yang bahagia menurut saya adalah bisa bebas melakukan apa yang kita mau tanpa perlu melanggar norma-norma yang ada maupun melanggar hukum. Tidak ada yang mengintimidasi kita. Tidak ada yang sok-sok mengatur kita. Tidak ada yang melarang kita jangan ini-jangan itu. Tidak ada semua itu. Tapi sekali lagi “kemerdekaan” yang saya maksud disini bukanlah “kemerdekaan” yang kebablasan atau semau gue, karena itu berarti chaos dan saya tidak setuju dengan itu.

Kita harus berani “memerdekakan” pasangan kita. Taruhlah kepercayaan padanya untuk melakukan apapun yang ia mau asalkan tidak melanggar hukum agama, norma-norma di masyarakat, dan hukum di negara kita. Ya, saya rasa itu tindakan yang sangat berat bagi sebagian kita, takut sang kekasih kebablasan itu adalah kekhawatiran yang wajar, tapi mungkin itulah pembelajarannya, tinggal bagaimana kita menaruh kepercayaannya itu dengan baik, ada reward dan punishment yang baik dan konsisten.

Saya melihat seorang suami hanya mempunyai apa yang menjadi milik istrinya begitupun sebaliknya, milik mereka bersama tapi tidak ada apa yang menjadi milik dirinya sendiri. Istri bebas ber-facebook ria, berkumpul arisan dengan teman-temannya, belanja ini dan itu, kondangan bersama, kumpul keluarga bersama, tapi ketika sang suami ingin bermain futsal misalnya, istrinya melarangnya karena takut waktu untuk dirinya akan berkurang, suami akan menjadi kurang perhatian, dsb. Sang istri tidak menyadari, atau mungkin telah menjajah sang suami tanpa disadarinya. Sang suami berhak atas waktu untuk dirinya sendiri, waktu dimana dia bebas melakukan apa yang dia mau, entah itu untuk melepas stresnya di kantor, di rumah atau terhadap suatu masalah yang membuatnya pusing. Saya rasa semua orang punya hak atas waktunya sendiri tanpa merasa “dijajah” oleh siapapun, tidak terkecuali pasangan, temannya, atau bahkan oleh orangtuanya.

Sahabat semua, saya rasa dengan memahami “milikku”, “milik kita” dan “miliknya”, serta mau untuk menghormati proses itu saya rasa akan tercipta harmoni dalam hidup berpasangan atau berkeluarga. Ada kalanya waktu bagi kita sendiri, ada kalanya waktu untuk kita bersama, dan juga ada kalanya waktu untuknya sendiri, tinggal pandai-pandainya kita mengatur semua waktu-waktu itu. Saya rasa dengan perlahan-lahan, dengan niat baik dan dengan kesabaran, semua itu akan terwujud dan berjalan selaras.

Mudah-mudahan sahabat semua paham atas uraian saya diatas. Semoga bermanfaat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: